About me

Hi There

Pages

Monday, October 26, 2015

SENYUM TULUS ENGKONG

Engkong, Penjaga Palang Kereta "...Yang Penting Ikhlas "





Di tengah - tengah Perlintasan kereta Commuter Line Jakarta Kota - Bogor, Lelaki paruh baya dengan seragam cokelat muda lengkap dengan atributnya berdiri tegap sigap. Terik matahari yang menyengat kulit tak jadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya mengatur lalu lalang kendaraan yang hendak melintasi rel kereta api Dewi Sartika itu. Keringat yang mengucur keluar, dan wajah lelah tertutupi dengan senyum keikhlasan penuh mengabdi.

Yakub Hendrick Simon, 74 tahun. Biasa di sapa Engkong. Menurutnya, ia telah bekerja sebagai petugas palang perlintasan kereta Jakarta Kota - Bogor sekitar 1 tahun yang lalu. Engkong pernah hidup di zaman Belanda, keras kehidupan pada saat itu sempat dirasakan beliau. Ayahnya merupakan seorang ABRI, kemanapun ayahnya pergi engkong selalu ikut dengan ayahnya. Dari situ engkong bekerja sebagai Wandra ( pembantu tentara barisan pertahanan rakyat angkatan darat). Bekerja lama sebagai wandra membuat engkong cukup lelah dan karena pada saat itu, usia menjadi faktor penghambat engkong untuk melanjutkan profesi nya itu. Akhirnya kini engkong lebih memilih beralih profesi sebagai penjaga palang kereta api. " Awalnya coba coba, tapi setelah saya jalani ya Alhamdulillah lebih baik dari sebelumnya " ucap engkong.

" Priiiiiit...prittt.., pritt..! " Bunyi peluit terdengar saat kereta hendak melintasi rel Dewi Sartika itu, badannya yang kecil berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengatur lalu lalang kendaraan. Pekerjaan itu harus engkong lakukan rutin sampai pukul 17.00 WIB seorang diri. Engkong mendapat upah dari kendaraan yang melewati rel itu sebesar Rp.40.000 terkadang juga hanya dapat Rp.25.000. Namun tidak menutup kemungkinan juga engkong mendapatkan kurang dari itu. Engkong tak pernah meminta, engkong selalu ikhlas dan bersyukur atas apa yang beliau dapatkan. "Saya bekerja disini tidak ada paksaan. Saya cuma mau bantu aja biar jalan lancar. Dapat uang juga kalau ada yang kasih saja. Saya ikhlas " ucapnya sambil tersenyum. 

senyum tulus engkong :)

Setiap keluarga menginginkan untuk selalu bersama, merayakan hari besar bersama, liburan bersama atau bahkan tinggal bersama. Berbeda hal nya dengan keluarga Engkong. Berawal dari kepergian istrinya 4 tahun silam, engkong kini hidup sendirian, Engkong mempunyai 6 anak tapi yang tersisa kini hanya 3. Dari upah yang hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari - hari, Engkong selalu berusaha menyisihkan uang untuk anak nya yang sesekali datang meminta.  Diajak tinggal bersama anak , Engkong menolak, beliau lebih suka tinggal sendiri, mencari uang sendiri, karena tidak ingin membuat anaknya susah karenanya. Dan yang terpenting berusaha dengan keringatnya sendiri.

Itulah yang engkong jalani saat ini, bagaimana engkong kedepannya tak ada seorang pun yang tahu, Engkong hanya dapat bersyukur dan ikhlas atas kehidupannya sekarang ini, yang masih berani bertahan hidup walau tantangan dan cobaan yang begitu besar dihadapi. 

Engkong pernah bilang " Uang tak ada artinya, jika niat kita membantu, uang pasti akan datang dengan mudah dari Yang Maha Kuasa ". Rabu(21/10/2015)



Engkong menjaga kendaraan ketika kereta
hendak melintasi rel




Engkong mengatur lalu lintas kendaraan 
sekitaran rel




Engkong tengah bergegas kembali 
ke perlintasan untuk mengatur kendaraan 


Perlintasan rel kereta, Engkong sigap 


Engkong mengatur lalu lintas yang hendak
melintasi rel kereta Dewi Sartika



No comments:

Post a Comment