About me

Hi There

Pages

Friday, December 30, 2016

Penulisan Naskah Kehumasan 1 Artikel

Kemurnian Suku Baduy Dalam


Kita tinggal di negara dimana banyak ragam budaya dan suku yang unik, ya Indonesia yang beraneka ragam dikarenakan nenek moyang kita yang berbeda suku. Kali ini kita akan mengenal salah satu suku bangsa asli yang disebut “baduy”. Suku baduy memiliki jumlah penduduk sekitar 5000 – 8000 orang dan berada di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kenkes, Banten. Baduy ini terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Secara umum, kedua golongan ini masih sama. Yang menjadi perbedaan adalah Baduy luar sudah terkontaminasi oleh dunia modernisasi yang mayoritasnya menggunakan handphone untuk berkomunikasi dan menggunakan alat elektronik lainnya secara sembunyi – sembunyi agar tidak ketahuan pengawas baduy dalam. Dan yang membuat banyak dari kita penasaran adalah mengapa suku Baduy dalam sangat menutup diri dan hampir tak berkomunikasi dengan pihak luar.





Jika kita ingin mengunjungi suku baduy ini, sebaiknya menghindari musim – musim penghujan karena treknya yang cukup sulit dicapai. Untuk sampai kesana kita dapat berjalan kaki kira – kira 4 jam dari kampung Balimbing. Melewati Baduy luar, perkampungan, lembah, sungai yang akan kita sebrangi dengan jembatan yang terbuat dari bambu dan jalan setapak, ladang lalu ada perbatasan dimana kita akan dilarang menggunakan handphone dan perangkat teknologi lainnya.  Dan setelah itu kita dapat sampai di kampung Cibeo yaitu salah satu dari 3 kampung Baduy dalam.

Pertama yang kita dapat rasakan adalah suasana sunyi dan tentram, tidak ada hiruk pikuk keramaian perkotaan. Ciri khas orang baduy dalam adalah pakaiannya yang berwarna putih alami dan biru tua yang ditenun dan dijahit sendiri dan tak lupa juga ikat kepala putih. Disini kita dapat melihat perbedaan suku baduy luar dan dalam dimana baduy dalam ini masih sangat menganut adat istiadat nenek moyang mereka. Dimana tidak menggunakan alat transportasi dan handphone seperti kebanyakan baduy luar gunakan.

Matahari terbenam, Baduy dalam diselimuti malam gelap, satu – satunya cahaya yang menerangi kampung adlaah lilin. Tidak mungkin jika meneruskan perjalanan. Kita dapat menginap satu malam namun ada beberapa peraturan adat istiadat yang harus ditaati, seperti tidak boleh memakai shampo dan sabun.Waktu malam bisa kita gunakan untuk bertanya jawab tentang baduy dalam secara luas dan pertanyaan kita dapat dijawab dengan senang hati. Ada pelajaran yang dapat kita petik di kemurnian hati suku baduy dalam. Bahwa sebenarnya mereka sudah akrab dengan modernitas namun mereka tetap berpegang teguh akan adat istiadat yang mereka miliki. Prinsip yang mereka miliki itu membuat mereka mandiri dalam memenuhi sandang, pangan dan papan. Tanpa beras mereka dapat menanam bukan membeli, tanpa membeli baju mereka bisa menjahit dan menenun.

Hari menjelang pagi, sebelum melakukan perjalanan pulang tidak ada salahnya untuk membuat cincin dan gelang – gelangan bersama orang Baduy, cincin dan gelang – gelangan tersebut terbuat dari rotan pohon dan hasilnya tentu saja cantik. Sambil menuruni lembah kita dapat menyadari bahwa pohon – pohon dan tanaman yang ada disekitar sini sangat dijaga dan dilindungi oleh suku baduy, semua masih terlihat asri, tidak ditebang sembarangan. Mereka tidak bersekolah namun dia tau bagaimana menghargai sesama tentunya alam, dan kita dapat merasakan bagaimana menjadi manusia yang sederhana dan menyatu dengan alam


No comments:

Post a Comment