Kemurnian Suku Baduy Dalam
Kita tinggal di negara dimana banyak ragam budaya
dan suku yang unik, ya Indonesia yang beraneka ragam dikarenakan nenek moyang
kita yang berbeda suku. Kali ini kita akan mengenal salah satu suku bangsa asli
yang disebut “baduy”. Suku baduy memiliki jumlah penduduk sekitar 5000 – 8000
orang dan berada di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kenkes, Banten. Baduy ini
terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Secara umum, kedua golongan ini masih sama. Yang menjadi perbedaan adalah Baduy
luar sudah terkontaminasi oleh dunia modernisasi yang mayoritasnya menggunakan
handphone untuk berkomunikasi dan menggunakan alat elektronik lainnya secara
sembunyi – sembunyi agar tidak ketahuan pengawas baduy dalam. Dan yang membuat
banyak dari kita penasaran adalah mengapa suku Baduy dalam sangat menutup diri
dan hampir tak berkomunikasi dengan pihak luar.
Pertama yang kita dapat rasakan adalah suasana
sunyi dan tentram, tidak ada hiruk pikuk keramaian perkotaan. Ciri khas orang
baduy dalam adalah pakaiannya yang berwarna putih alami dan biru tua yang
ditenun dan dijahit sendiri dan tak lupa juga ikat kepala putih. Disini kita
dapat melihat perbedaan suku baduy luar dan dalam dimana baduy dalam ini masih
sangat menganut adat istiadat nenek moyang mereka. Dimana tidak
menggunakan alat transportasi dan handphone seperti kebanyakan baduy luar
gunakan.
Matahari terbenam, Baduy dalam diselimuti malam
gelap, satu – satunya cahaya yang menerangi kampung adlaah lilin. Tidak mungkin
jika meneruskan perjalanan. Kita dapat menginap satu malam namun ada beberapa
peraturan adat istiadat yang harus ditaati, seperti tidak boleh memakai shampo
dan sabun.Waktu malam bisa kita gunakan untuk bertanya jawab tentang baduy
dalam secara luas dan pertanyaan kita dapat dijawab dengan senang hati. Ada
pelajaran yang dapat kita petik di kemurnian hati suku baduy dalam. Bahwa sebenarnya
mereka sudah akrab dengan modernitas namun mereka tetap berpegang teguh akan
adat istiadat yang mereka miliki. Prinsip yang mereka miliki itu membuat mereka
mandiri dalam memenuhi sandang, pangan dan papan. Tanpa beras mereka dapat
menanam bukan membeli, tanpa membeli baju mereka bisa menjahit dan menenun.
Hari menjelang pagi, sebelum melakukan perjalanan
pulang tidak ada salahnya untuk membuat cincin dan gelang – gelangan bersama
orang Baduy, cincin dan gelang – gelangan tersebut terbuat dari rotan pohon dan
hasilnya tentu saja cantik. Sambil menuruni lembah kita dapat menyadari bahwa
pohon – pohon dan tanaman yang ada disekitar sini sangat dijaga dan dilindungi
oleh suku baduy, semua masih terlihat asri, tidak ditebang sembarangan. Mereka
tidak bersekolah namun dia tau bagaimana menghargai sesama tentunya alam, dan
kita dapat merasakan bagaimana menjadi manusia yang sederhana dan menyatu
dengan alam
Sumber: http://travel.detik.com/


No comments:
Post a Comment